logo

YouTube    Facebook    Twitter
Nama Produk :  
 
   
 
 

Kembali ke halaman sebelumnya
 
14-Aug-2017
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia
 
 

Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga Kadipaten Pakualaman pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman. Ki Hajar Dewantara -nama aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat- disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Beliau dibesarkan di lingkungan Keraton Yogyakarta karena beliau adalah putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Pakualaman III.

Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya di ELS (Europeesche Lagere School) Ki Hajar melanjutkan sekolahnya di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputra) -sebuah sekolah dokter untuk pribumi- di Batavia -sekarang Jakarta-. Namun karena sakit, beliau tidak sampai lulus dari sekolah dokter tersebut.

Ki Hajar Dewantara bekerja menjadi seorang penulis dan wartawan di berbagai surat kabar yang terkenal pada masa itu, di antaranya: Kaoem Moeda, Midden Java, Poesara, Sedioutomo, De Expres, Oetoesan dan Tjahaja Timoer. Beliau tergolong penulis handal, tulisannya terkenal tajam dan komunikatif dengan semangat antikolonial. Beliau juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak Boedi Oetomo berdiri pada tahun 1908, Ki Hajar aktif sebagai seksi propaganda untuk mensosialisasikan dan mengunggah kesadaran masyarakat Indonesia, -terutama masyarakat Jawa-, pada waktu itu, mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Beliau juga mengorganisasi Kongres Boedi Oetomo pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta.

Selain sebagai anggota Boedi Oetomo, Ki Hajar, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker, menjadi anggota organisasi Insulinde, yaitu organisasi multietnik yang didominasi oleh kaum indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Kemudian ketika Douwes Dekker mendirikan Indische Partij, Ki Hajar diajaknya juga.

Ada suatu masa ketika pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Ki Hajar. Ada tulisannya yang paling terkenal, yaitu:"Seandainya Aku Seorang Belanda", -judul aslinya: "Als ik een Nederlander was"-, dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker, 13 Juli 1913. Isi artikel tersebut terasa pedas untuk kalangan pejabat Hindia Belanda. Berikut kutipan tulisan tersebut:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan keaslian tulisan tersebut ditulis oleh Ki Hajar, karena gaya bahasanya berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya. Mereka menganggap Douwes Dekker telah mempengaruhi Ki Hajar untuk menulis dengan gaya seperti itu. Akibat dari tulisan ini, atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg , Ki Hajar ditangkap dan atas permintaan Ki Hajar sendiri, beliau diasingkan ke Pulau Bangka. Pada saat itu, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo memprotes penangkapan tersebut yang pada akhirnya, mereka bertiga diasingkan ke Belanda pata tahun 1913. Ketiga tokoh ini dikenal dengan sebutan "Tiga Serangkai". Ketika itu, Ki Hajar berusia 24 tahun.

Ki Hajar tetap aktif walau dalam pengasingan, beliau turut aktif dalam organisasi pelajar asal Indonesia, yaitu: Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di pengasingan ini beliau kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini, Ki Hajar terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Sekembalinya dari pengasingan, pada taun 1919, Ki Hajar bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajarnya kemudian ia gunakan untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya, kini sangat terkenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi: "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani", "di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan". Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa. Saat berusia 40 tahun Ki Hajar -Raden Mas Soewardi Soerjaningrat-, mengganti namanya menjadi Ki Hajar dan tidak menggunakan gelar kebangsawanannya yang dimaksudkan agar dapat bebas dekat dengan rakyat secara fisik maupun jiwa.

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hajar diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959, dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

 
 
Kembali ke halaman sebelumnya
 
 
PT 920900A
PT 970102AL
SET 907
PEI 300
SET 911
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Home | About Us | Products | News | Events | Gallery | Support | Download Area | FAQ | Contacts | Sitemap
 
 
developed by it works! studios