logo

YouTube    Facebook    Twitter
Nama Produk :  
 
   
 
 

Kembali ke halaman sebelumnya
 
26-Sep-2017
Dewi Sartika, Pelopor Pendidikan untuk Wanita
 
 
Raden Dewi Sartika lahir di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884. Dewi Sartika berasal dari keluarga Sunda yang ternama, yaitu Raden Rangga Somanegara dan Raden Ajeng Rajapermas. Dewi Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita dan diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1966.

Ayahnya, Raden Somanagara, adalah seorang pejuang kemerdekaan yang diasingkan ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana.

Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya, -kakak ibunya-, yang berkedudukan sebagai Patih di Cicalengka. Dari pamannya, Dewi Sartika mendapatkan didikan mengenai budaya Sunda, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan mempunyai kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, Dewi Sartika sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis dan bicara bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di lingkungan kepatihan. Papan kandang, arang dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.

Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan bicara beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena pada masa itu, tidak banyak anak, -apalagi anak rakyat biasa-, memiliki kemampuan seperti itu, dan diajarkan oleh seorang anak perempuan.


Dengan bantuan kakeknya, -R.A.A. Martanegara- dan seorang pejabat Inspektur Kantor Pengajaran, -Den Hamer-, pada tahun 1904, di Bandung, Dewi Sartika berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya Sakola Istri, bertempat di Pendopo Kabupaten Bandung. Awalnya sekolah ini mempunyai murid sebanyak 20 orang. Murid-murid yang hanya wanita saja itu, diajari berhitung, membaca, menulis, jahit-menjahit dan pelajaran agama. Ketika itu, sekolah tersebut hanya mempunyai dua kelas yang tidak cukup untuk menampung semua kegiatannya. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, Dewi Sartika harus meminjam sebagian ruangan Kepatihan Bandung.

Dewi Sartika berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah-tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes dan terampil. Karena itu, banyak juga pelajaran yang behubungan dengan pembinaan rumah-tangga yang diberikannya. Sakola Istri terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid-murid bertambah banyak jumlahnya. Ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya sudah tidak mampu menampung murid-murid yang banyak itu. Untuk mengatasi masalah tersebut, Sakola Istri kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas.

Dewi Sartika membanting tulang mencari dana untuk biaya operasional sekolahnya. Jerih-payah ini tidak dirasakannya sebagai beban, namun justru menjadi kepuasan batinnya, karena dengan jerih-payahnya itu, Dewi Sartika berhasil mendidik kaumnya. Selain dorongan dari berbagai pihak, pendukung utama Dewi Sartika adalah suaminya sendiri, yaitu Raden Kanduruhan Agah Suriawinata yang dinikahinya pada taun 1906, yang telah banyak membantu mewujudkan perjuangan dan cita-citanya. Ketika itu, Raden Kanduruhan Agah Suriawinata adalah seorang guru di Sekolah Karang Pamulang, seorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika.

Tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di beberapa kota kabupaten.

Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolah Sakola Istri diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Perubahan tidak hanya pada nama saja, namun mata pelajarannya juga bertambah. Hanya tinggal satu dua kota kabupaten saja yang belum mempunyai Sakola Kautamaan Istri di wilayah Pasundan. Terdapat satu Sakola Kautamaan Istri di Bukittinggi Sumatera Barat yang didirikan oleh Encik Rama Saleh. Pada tahun 1920, seluruh wilayah Pasundan sudah lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya, ditambah beberapa sekolah yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, pada peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, Dewi Sartika mengganti nama sekolahnya menjadi Sekolah Raden Dewi. Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau sebagai penghargaan atas jasanya memperjuangkan pendidikan pada ulang tahun sekolahnya yang ke 35.

Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.


(Sumber)
(Sumber)
 
 
Kembali ke halaman sebelumnya
 
 
OT 203A
OT 110C H02N
PT 920900A
PT 970102AL
SET 907
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Home | About Us | Products | News | Events | Gallery | Support | Download Area | FAQ | Contacts | Sitemap
 
 
developed by it works! studios