logo

YouTube    Facebook    Twitter
Nama Produk :  
 
   
 
 

Kembali ke halaman sebelumnya
 
25-Oct-2017
Roehana Koeddoes: Seorang Pahlawan Pendidikan dan Jurnalisme
 
 
Roehana Koeddoes dilahirkan di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tanggal 20 Desember 1884. Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Mahardja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Roehana merupakan kakak tiri Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama, merupakan mak tuo (bibi) dari Chairil Anwar, penyair terkenal, juga merupakan sepupu H. Agus Salim, seorang pejuang kemerdekaan.

Roehana hidup di jaman Kartini, pada saat akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik, sangat dibatasi. Roehana adalah seorang perempuan yang berkomitmen kuat pada pendidikan, terutama pendidikan untuk kaum perempuan. Pada jamannya, Roehana termasuk salah satu perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan, adalah tindakan semena-mena yang harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya, Roehana melawan ketidak-adilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Pada usia 24 tahun, Roehana menikah dengan Abdoel Koeddoes yang berprofesi sebagai notaris. Roehana adalah pendiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia dan beliau juga merupakan seorang wartawati. Roehana Koeddoes menghabiskan 87 tahun umurnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Roehana Koeddoes menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974); penghargaan dari Menteri Penerangan Harmoko sebagai Perintis Pers Indonesia pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987; dan pada tanggal 6 November 2007 pemerintah Indonesia menganugerahinya Bintang Jasa Utama. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum perempuan yang telah diperjuangkannya.

Roehana tidak mendapat pendidikan secara formal, namun beliau belajar dari ayahnya yang merupakan pegawai pemerintahan Belanda. Ayahnya kerap membawa bahan bacaan dari kantornya untuk Roehana. Keinginan dan semangat belajar tinggi membuat Roehana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. Dalam usia yang masih muda, Roehana sudah bisa menulis, membaca dan berbahasa Belanda. Selain itu, Roehana juga mempelajari abjad Arab, Latin dan Arab-Melayu. Pada saat ayahnya ditugaskan di Alahan Panjang, mereka bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat tersebut Roehana belajar menyulam, menjahit, merenda dan merajut yang mana hal-hal tersebut merupakan keahlian perempuan Belanda. Di sini Roehana banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup dan pendidikan Eropa.


Berbekal semangat dan pengetahuan yang telah dimilikinya, Roehana kembali ke kampungnya halamannya, beliau medirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sekolah ini mengajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, baca-tulis, budi pekerti, pendidikan agama dan bahasa Belanda. Roehana banyak mendapat rintangan dalam mewujudkan cita-citanya itu. Perjuangannya penuh dengan benturan sosial dari pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang, fitnah tak kunjung henti menderanya mengiringi keinginannya untuk memajukan kaum perempuan. Namun rintangan maupun gejolak sosial yang dihadapinya justru semakin membuatnya tegar dan memperkuat keyakinannya dengan apa yang sedang beliau perjuangkan.

Selain berkiprah di sekolahnya, Roehana juga menjalin kerja-sama dengan pemerintah Belanda, dalam hal pengadaan dan pemesanan peralatan jahit-menjahit untuk sekolahnya. Beliau juga menjadi perantara untuk pemasaran hasil kerajinan muridnya, yang memang memenuhi syarat untuk dikirim ke Eropa. Hal ini menjadikan sekolah Roehana menjadi sekolah pertama di Minangkabau, yang merupakan sekolah berbasis industri rumah-tangga serta koperasi simpan-pinjam dan jual-beli, yang anggotanya semua perempuan. Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Roehana ini.

Selain menghasilkan kerajinan, Roehana juga menulis puisi dan artikel. Roehana juga fasih berbahasa Belanda, tutur katanya setara dengan orang yang berpedidikan tinggi, selain itu, beliau juga berwawasan luas. Hal ini menjadi topik pembicaraan di Belanda, berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan beliau disebut juga sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatera Barat.

Keinginan untuk berbagi cerita tentang perjuangan memajukan pendidikan kaum perempuan di kampungnya dan ditunjang dengan kebiasaannya menulis, maka pada tanggal 10 Juli 1912 sebuah surat kabar perempuan, yang diberi nama Sunting Melayu, diterbitkan. Sunting Melayu merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.


Kisah sukses Roehana di sekolah kerajinan Amai Setia tidak berlangsung lama. Pada tanggal 22 Oktober 1916, seorang muridnya yang telah dididiknya hingga pintar, menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester karena tuduhan penyelewengan penggunaan keuangan. Roehana harus menghadapi beberapa kali persidangan yang diadakan di Bukittinggi didampingi suaminya yang mengerti hukum. Setelah beberapa kali persidangan, tuduhan terhadap Roehana tidak terbukti, jabatan di sekolah Amai Setia kembali diserahkan padanya, namun secara halus ditolaknya karena beliau berniat pindah ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi Roehana mendirikan sekolah dengan nama Roehana School. Beliau mengelola sekolahnya sendiri tanpa meminta bantuan siapapun untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan terulang. Roehana School menjadi cepat terkenal, karena Roehana sudah cukup populer dengan hasil karyanya yang bermutu dan juga jabatannya sebagai pemimpin redaksi Sunting Melayu, membuat eksistensinya tidak diragukan. Roehana School mempunya murid banyak, tidak hanya dari Bukittingi, tetapi juga dari daerah lain.

Di Bukittinggi, Roehana memperkaya keterampilannya dengan belajar membordir pada orang Cina dengan menggunakan mesin jahit. Karena jiwa bisnisnya juga kuat, selain belajar membordir, beliau juga menjadi agen mesin jahit untuk murid-murid di sekolahnya sendiri. Roehana adalah perempuan pertama di Bukittinggi yang menjadi agen mesin jahit Singer yang sebelumnya hanya dikuasai orang Cina.

Karena kepandaian dan kepopulerannya, Roehana mendapat tawaran mengajar di sekolah Dharma Putra, sekolah yang muridnya terdiri atas perempuan dan laki-laki. Roehana diberi kepercayaan memberi pelajaran keterampilan menyulam dan merenda. Roehana menjadi satu-satunya guru yang tidak pernah menempuh pendidikan formal di sekolah ini, namun beliau tidak hanya pintar dalam hal menjahit dan menyulam, melainkan juga mampu mengajar agama, budi pekerti, bahasa Belanda, politik, sastra dan teknik menulis jurnalistik.

Roehana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah pradigma dan pandangan masyarakat Koto Gadang terhadap pendidikan kaum perempuan yang menganggap perempuan tak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah. Dengan bijak Roehana menjelaskan: "Perputaran jaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah, perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi-pekerti luhur, taat beribadah, yang kesemuanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan". Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Roehana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri menurut kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya, dibutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, itulah perlunya pendidikan untuk perempuan.

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Roehana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Roehana pun memelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Di masa-masa akhir hidupnya, Roehana tetap berjuang, termasuk ketika merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur surat kabar Radio yang diterbitkan Tionghoa-Melayu di Padang dan surat kabar Cahaya Sumatera.


(Sumber 1, Sumber 2)

 
 
Kembali ke halaman sebelumnya
 
 
OT 203A
OT 110C H02N
PT 920900A
PT 970102AL
SET 907
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Home | About Us | Products | News | Events | Gallery | Support | Download Area | FAQ | Contacts | Sitemap
 
 
developed by it works! studios