logo

YouTube    Facebook    Twitter
Nama Produk :  
 
   
 
 

Kembali ke halaman sebelumnya
 
12-Mar-2018
Butet Manurung: Advokat Masyarakat Adat Indonesia
 
 
Namanya Saur Marlina Manurung, “Indiana Jones” dari Indonesia. Mayoritas publik Indonesia, bahkan mancanegara, lebih mengenalnya sebagai Butet Manurung. Generasi tahun 2000-an barangkali baru mengenalnya setelah kemunculan film Sokola Rimba pada akhir tahun 2013. Sebuah film yang menceritakan kisah hidup Butet sebagai ibu guru di hutan belantara.

Butet senang membaca. Kegemaran membaca buku tersebut membuat Butet mencintai dunia petualangan dan sekaligus menumbuhkan potensinya sebagai seorang inisiator atau pelopor.

Dianugerahi kecerdasan yang mumpuni, unggul dalam banyak mata pelajaran, membuat Butet tergerak untuk membantu teman-temannya yang tertinggal. Dari sinilah bakatnya sebagai guru, pelan-pelan terasah. Pengalaman tersebut telah menumbuhkan kreatifitas yang kaya  dalam diri Butet yang ternyata kelak sangat berguna ketika Butet mengajar di rimba.

Sebagai seorang pendidik, Butet berprinsip bahwa seorang guru yang baik adalah guru yang mampu belajar dari murid-muridnya dan belajar dari ketidaksempurnaan guru-guru terdahulu. Ia sungguh-sungguh menerapkan prinsipnya itu ketika menjadi guru untuk Suku Anak Dalam di belantara Jambi. Butet berguru pada murid-muridnya tentang bahasa dan kearifan orang rimba. 


Lulus dari sekolah menengah atas, Butet kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung. Dua bidang studi ditempuhnya bersamaan. Ia menjalani kuliah sekaligus kerja sambilan memberi les piano dan mengajar matematika. Setelah kuliah 7 tahun sambil menjalani kesibukan naik-turun gunung dan terancam mendapat surat drop out, akhirnya Butet meraih dua gelar sarjana, antropologi dan sastra Indonesia.

Butet sempat bekerja pada lembaga penelitian di kampusnya sampai pada suatu ketika dia melihat ada lowongan kerja dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, untuk menjadi tenaga pengajar bagi orang rimba di Jambi. Butet merasa tergerak dan meyakini bahwa pekerjaan tersebut sesuai dengan panggilan hatinya. Dari situlah Butet memulai tahapan baru yang mengubah seluruh nasib hidupnya.

Sejak tahun 1999 hingga 2003, Butet menyusuri pedalaman hutan, menjadi guru bagi Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Butet dan murid-muridnya tak punya ruang kelas permanen. Mereka belajar beralas batang pohon yang sudah tumbang atau di atas bebatuan. Jatuh bangun Butet berusaha mengenalkan aksara dan angka pada orang rimba. Tak serta merta kebaikan hatinya diterima. Butet sempat merasakan putus asa karena penolakan dari warga asli. Mereka takut ditipu, bahkan menganggap bahwa pendidikan adalah sesuatu yang menyalahi adat dan budaya. Namun Butet tidak menyerah, dan dia menemukan bahwa orang rimba butuh diyakinkan, bukan dipaksa, karena itu ia terus berusaha.

Empat tahun lamanya berjuang bersama orang rimba, Butet akhirnya merasakan hasilnya. Kemampuan literasi membuat orang rimba mempunyai kekuatan. Butet berpendapat bahwa, literasi dapat menuntun masyarakat adat ke mana saja. Mereka akan mampu memahami persoalan hukum, terutama tentang pembalakan liar, mereka tidak akan mudah ditipu lagi, mereka tahu bagaimana cara mempertahankan tanah milik mereka.


Pengalaman bersama orang rimba memantapkan langkah Butet untuk berkarya lebih bagi masyarakat adat. Tahun 2003, bersama empat rekannya Butet mendirikan organisasi bernama SOKOLA yang bertujuan memberi kesempatan belajar bagi komunitas adat dan kelompok marjinal di wilayah terpencil di Indonesia. Selama 14 tahun berdiri, SOKOLA sudah berkiprah di 15 daerah, tersebar dari Sumatera, Sulawesi, NTT hingga Papua. Sebagian sudah mampu beroperasi secara mandiri atau diambil alih LSM dan pemerintah setempat. Masih ada 4 SOKOLA yang sedang berjalan saat ini, yakni di Jambi, Jember, Kajang dan Papua.

SOKOLA mempunyai target 4 tahun beroperasi di suatu daerah. Setidaknya ada 4 atau 5 SOKOLA di berbagai komunitas adat. Bersama anggota komunitas, SOKOLA menentukan tujuan bersama, memahami masalah dan membuat indikator keberhasilan. Target SOKOLA sederhana, jika komunitas adat sudah mampu menyelesaikan masalah sendiri, berarti mereka sudah berhasil. Di Flores, SOKOLA berjalan lancar, dengan cepat komunitas adat sudah dapat menyelesaikan beberapa masalah mereka sendiri, seperti: masalah bom ikan, membuat aturan sendiri, keberanian anggota komunitas mencalonkan diri sebagai kepala desa, bahkan anggota perempuannya sudah berani bersuara dalam forum desa. Lain halnya dengan Jambi yang mempunyai masalah berganti-ganti, sehingga sudah 17 tahun kegiatan SOKOLA tidak selesai.

Sambil berjuang melalui SOKOLA, Butet masih menyimpan visi besar, yaitu agar komunitas adat atau orang asli memiliki kurikulum sendiri yang berbeda dengan kurikulum konvensional. Menurut Butet, masyarakat adat cenderung dipandang dari dua sisi berlawanan, sebuah paradoks. Karena mereka hidup di ekosistem yang rapuh, mereka dianggap sebagai penjaga alam terbaik sekaligus musuh terburuk, sebagai penduduk yang sah dan perambah hutan yang berbahaya, sebagai barometer keragaman ekologi dan sekadar catatan kaki dari konflik ekonomi atau politik. Di Indonesia, paradoks ini meluas ke wilayah moral. Bagi sebagian pihak, masyarakat adat adalah simbol alam yang murni, keragaman budaya, simbol hidup sederhana. Tapi bagi pihak lain, termasuk bagi negara, masyarakat adat mewakili kemiskinan, simbol keterbelakangan dan hambatan untuk kemajuan.

Selain memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, lebih jauh Butet bercita-cita agar kesukarelawanan perlu menjadi budaya orang Indonesia. Sebab bangsa yang tangguh lahir dari masyarakat yang peduli, yang saling menolong tanpa pamrih, berempati besar pada mereka yang miskin dan tersingkir dan pada mereka yang tak mampu bersuara melawan ketidakadilan. Butet menginginkan adanya gerakan kesukarelaan tumbuh subur di Indonesia. Menurutnya, setiap orang, apalagi kaum muda, seharusnya pernah mengalami jadi relawan di sepanjang hidupnya. Menurut Butet, menjadi relawan seharusnya dilakukan sebelum seseorang menekuni profesi yang disukainya. Hal tersebut melatih menumbuhkan nilai diri, melatih untuk bahagia karena telah sukarela melayani atau memberi. Kesukarelawanan itu sebenarnya adalah bakat yang ada pada setiap orang. Tiap orang bisa menjadi diri sendiri jika orang tersebut bahagia karena telah memberi manfaat bagi orang lain.


Dirangkum dari: https://pembaharublog.wordpress.com/2017/01/24/butet-manurung/
 
 
Kembali ke halaman sebelumnya
 
 
PHT 320
PHT 321
PHT 322
PHT 310
PT 970232R
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Home | About Us | Products | News | Events | Gallery | Support | Download Area | FAQ | Contacts | Sitemap
 
 
developed by it works! studios